Membaca Upah Buruh Tani dan Buruh Bangunan

BPS merilis tentang perubahan upah buruh bangunan dan upah buruh tani, dimana keduanya dianggap sebagai acuan untuk melihat sektor informal yang masing-masing mewakili konteks urban (perkotaan) dan rural (perdesaan). Dari angka yang dirilis BPS menunjukan bahwa adanya peningkatan upah nominal yang berkelanjutan baik pada buruh tani maupun buruh bangunan. Artinya, keduanya mendapatkan peningkatan pendapatan dimana pada bulan juni 2016 sampai dengan juli 2016 masing-masing mengalami peningkatan rata-rata upah nominal harian sebesar 0,34% (untuk buruh tani) dan 0,20% (untuk buruh bangunan).

Sepanjang periode tersebut secara akumulatif peningkatan upah nominal harian yang didapat meningkatkan sebesar 4,11% dan 2,35%. Peningkatan upah nominal harian buruh tani, hanya naik dari Rp. 47.898 menjadi Rp 49.912 atau hanya meningkat sebesar Rp. 2.014. Adapun, upah harian nominal buruh bangunan meningkat dari Rp. 82.028 menjadi Rp. 83.975 atau meningkat sebesar Rp. 1.947.

Upah Harian Buruh Tani dan Buruh Bangunan di Bawah Mandor Periode Juli 2016-Juni 2017

Sumber: Berita Resmi Statistik, Juli 2017

Dalam teori ekonomi, kenaikan upah tidak bisa dilihat semata dari sisi upah nominal atau besaran upah yang diterima buruh, melainkan juga perlu dilihat dari konteks pegerakan harga-harga yang mengalami inflasi maupun deflasi. Ukuran nilai upah dengan mempertimbangkan pergerakan harga-harga ini disebut upah riil yang berfungsi untuk melihat sejauh mana perubahan upah terpengaruh dengan kemampuan daya beli pekerja. BPS merilis dua pendekatan itu, baik upah nominal maupun upah riil khususnya dalam kontek buruh tani dan buruh bangunan. Adapun upah riil yang digunakan hingga periode 2017 menggunakan perbandingan harga berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode 2012

Dari data yang dirilis BPS menunjukan bahwa perubahan upah riil pada buruh tani menunjukan kecenderungan fluktuatif dengan rata-rata upah riil harian sepanjang periode juli 2016 sampai juni 2017 mengalami rata-rata penurunan sebesar (-0,01%) tiap bulan atau secara akumulatif terjadi penurunan sebesar (-0,08). Dilihat dari nilai riilnya perubahan upah yang diterima sepanjang periode tersebut justru mengalami penurunan sebesar Rp 25.

Buruh bangunan diperkotaan hampir sama dengan buruh tani di pedesaan, pada periode yang sama mengalami penurunan upah riil harian secara akumulatif mencapai (-1,95%) dengan rata-rata bulanan mencapai (-0,16%). Dilihat dari nilai riilnya, buruh bangunan merasakan penurunan upah sebesar Rp 1.261.

Artinya bahwa secara riil buruh tani dan buruh bangunan sepanjang periode tersebut tidak menikmati peningkatan upah dikarenakan upah yang meningkat tergerus dengan kenaikan harga-harga barang yang dikonsumsinya. Penurunan upah riil di perkotaan cenderung jauh lebih besar dibandingkan penurunan upah riil di pedesaan yang menandakan bahwa terjadinya inflasi perkotaan jauh lebih besar tetapi tidak diimbangi oleh kenaikan upah yang signifikan. Sebaliknya di sektor pedesaan meskipun kenaikan upah terjadi lebih tinggi tetapi tetap belum mampu melampaui kenaikan harga-harga.

Padahal jika dikaitkan dengan data sakernas februari 2017, terkait status dan jumlah pekerja di dua sektor tersebut (kontruksi dan pertanian) utamanya yang bekerja sebagai buruh / karyawan dan buruh harian lepas (perkotaan dan perdesaan) secara nasional didapatkan angka masing-masing sebesar 6.201.543 atau orang dan 8.569.169. Masing-masing mewakili sekitar 4,98% dan 6,88% dari keseluruhan penduduk bekerja. Artinya lebih dari 14,76 juta orang atau 11,86% penduduk bekerja mengalami penurunan pendapatan riil yang berakibat pada penurunan daya beli mereka. Jika kondisi ini tidak diperhatikan maka secara akumulatif mereka akan terus menjadi kelompok rentan yang tidak menikmati hasil-hasil pembangunan ekonomi melainkan cenderung menjadi kelompok yang semakin terpinggirkan.

Padahal jika dikaitkan dengan data sakernas februari 2017, terkait status dan jumlah pekerja di dua sektor tersebut (kontruksi dan pertanian) utamanya yang bekerja sebagai buruh / karyawan dan buruh harian lepas (perkotaan dan perdesaan) secara nasional didapatkan angka masing-masing sebesar 6.201.543 atau orang dan 8.569.169. Masing-masing mewakili sekitar 4,98% dan 6,88% dari keseluruhan penduduk bekerja. Artinya lebih dari 14,76 juta orang atau 11,86% penduduk bekerja mengalami penurunan pendapatan riil yang berakibat pada penurunan daya beli mereka. Jika kondisi ini tidak diperhatikan maka secara akumulatif mereka akan terus menjadi kelompok rentan yang tidak menikmati hasil-hasil pembangunan ekonomi melainkan cenderung menjadi kelompok yang semakin terpinggirkan.