Tegakkan Prinsip dan Manajemen K3 Demi Keselamatan Pekerja, Segera! Siaran Press TURC Menyikapi Tragedi Ledakan Pabrik Kembang Api di Kosambi, Tangerang

https://img.okezone.com/content/2017/08/21/338/1759716/antisipasi-penjarahan-pasca-kebakaran-polisi-jaga-260-rumah-di-kebon-pala-2wsW4ndTr4.jpg

Ledakan yang terjadi di pabrik kembang api di Tangerang pada 26 Oktober kemarin telah menorehkan duka dan catatan hitam bagi dunia perburuhan di Indonesia khususnya pada penerapan manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Tidak tanggung-tanggung, insiden tersebut memakan korban jiwa sebanyak 47 orang, sedangkan 46 orang luka-luka, dan 10 orang masih dicari. Terkuncinya pintu gerbang pabrik dan tidak adanya jalur evakuasi diduga kuat menjadi penyebab banyaknya korban tewas terjebak api sehingga menyulitkan proses evakuasi.

Berdasarkan pengakuan korban yang diwawancarai oleh media, ditemukan fakta bahwa kondisi kerja di pabrik ini tergolong sangat buruk. Seorang pekerja perempuan mengundurkan diri akibat tidak kuat terpapar bau zat kimia. Ia juga mengemukakan kondisi lingkungan kerja pabrik yang sangat sesak dan panas. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa perusahaan tidak memberikan alat pelindung diri (APD) yang memadai bagi pekerjanya. Disamping itu, seorang korban selamat di bagian pengepakan yang diwawancarai oleh media mengemukakan bahwa ia hanya digaji sebanyak Rp 55.000 per hari (jauh di bawah upah minimum kota Tangerang yang setara sekitar Rp100.000 per hari). Seringkali gajinya dipotong apabila tidak memenuhi target harian yang cukup berat.

Di Indonesia sendiri, ketentuan mengenai K3 telah diatur dalam UU No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, UU No.13 tentang Ketenagakerjaan, dan PP No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen K3. Peristiwa ini seharusnya menjadi alarm keras bagi pengusaha dan pemerintah agar segera menegakkan prinsip dan pengawasan sistem K3, khususnya kondisi K3 di dalam tempat kerja beresiko bahaya. Hal ini penting mengingat insiden kecelakaan kerja ini bukanlah yang pertama. Kebakaran pabrik yang menewaskan sedikitnya 22 pekerja juga pernah menimpa PT Mandom di Bekasi pada tahun 2015 silam. Juga masih melekat diingatan kita tentang kasus Sebastian, seorang buruh pabrik yang bunuh diri akibat frustrasi atas buruknya kondisi K3 di tempat kerjanya.

Menyikapi peristiwa ini, TURC turut berduka cita secara mendalam atas jatuhnya korban jiwa dan korban luka serta mengutuk keras tindakan pengabaian atas penerapan prinsip K3 dan kerja layak demi mencapai keuntungan semata.

TURC mendesak pihak PT Panca Buana Cahaya Sukses untuk:
1. Menanggung seluruh proses pengobatan hingga pemulihan para korban luka
2. Membayar penuh ganti rugi / asuransi kematian bagi seluruh korban pekerja yang meninggal.

TURC mendesak aparat hukum untuk segera mengusut kasus secara tuntas dengan:
1. Menyelidiki legalitas, izin operasional maupun prosedur K3 di perusahaan tersebut
2. Menjatuhkan hukuman setimpal guna memberi efek jera dan mencegah kejadian yang sama agar tidak terulang kembali.

TURC juga mendesak pemerintah, khususnya pengawas di tataran dinas dan Kementerian Tenaga Kerja untuk meningkatkan inspeksi pada seluruh perusahaan-perusahan yang beresiko bahaya agar segera menerapkan SMK3 yang memadai.

Jakarta, 27 Oktober 2017
Andriko S Otang
Direktur Eksekutif Trade Union Rights Centre (TURC)
Email: andriko.otang@turc.or.id