Mengenal Lebih Dekat Pekerja Rumahan

Sumber: Dokumentasi Trade Union Rights Center (TURC)

Pada hari Minggu tanggal 22 Oktober 2017, Trade Union Rights Centre mengadakan kampanye tentang isu Pekerja Rumahan di kegiatan Car Free Day di sekitar Jl. Sudirman – Jl. MH. Thamrin dari pukul 06.00 – 11.00 WIB. Bersama dengan ibu-ibu pekerja rumahan, kampanye ini mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat siapa pekerja rumahan dan bagaimana kondisi kerjanya. Melalui workshop terbuka yang mengusung tema ‘Membuka Lowongan Kerja, Daftar Sekarang Langsung Dapat Gaji!’ TURC mengajak masyarakat untuk mencoba mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan pekerja rumahan, seperti mengelem paper bag, memasukan isi pulpen, memasang payet, dan memasang klip kabel.

Bagi peserta yang mencoba dan berhasil mengerjakan pekerjaan tersebut, akan diberi upah berdasarkan upah satuan barang yang biasa didapat oleh pekerja rumahan saat bekerja. Misalnya, siapa yang berhasil menyelesaikan pembuatan paper bag akan di upah Rp 200 per-satuannya. Sementara untuk pekerjaan memasang klip kabel, akan di upah sebesar Rp 1.500 / kilo klip kabel yang sudah terpasang. Lengkap dengan slip gaji dan upah yang di terima masyarakat, cara ini ingin memantik perhatian masyarakat bagaimana kondisi kerja pekerja ruamhan. Antusias masyarakat sangat baik dalam kegiatan ini. Banyak orang-orang yang tertarik mendatangi booth dan ‘bekerja’. Peserta yang mengikuti workshop terbuka ini pada akhirnya menjadi tahu, siapa itu pekerja rumahan, apa yang mereka kerjakan, berapa upah yang mereka dapat, dengan merasakan sehari menjadi pekerja rumahan.

Istilah pekerja rumahan memang masih asing di telinga banyak orang. Namun pekerja rumahan bukan fenomena baru di Indonesia. Dimana pekerja rumahan seringkali dikenal sebagai pekerja borongan atau sub-kontrak yang mengerjakan sebagian proses produksi barang-barang dari industri/pabrik yang dikerjakan di rumah. Walaupun barang-barang yang dikerjakan cenderung sama dengan pekerja yang ada di pabrik, hal yang membedakannya adalah mereka bekerja di rumah mereka masing-masing bukan di pabrik atau di tempat perusahaan. Mereka dibayar berdasarkan upah per satuan produk yang mereka kerjakan, bukan berdasarkan jam kerja. Perusahaan sengaja mengalihkan proses produksi ke pekerja rumahan untuk menekan biaya produksi seperti hal nya ongkos listrik, perawatan mesin di pabrik, serta pemenuhan tunjangan pekerja dan kewajiban untuk memfasilitasi jaminan sosialnya.

Sumber: Dokumentasi Trade Union Rights Center (TURC)

Mungkin kita tidak pernah mengetahui dibalik produk-produk yang biasa kita pakai, terselip tangan-tangan terampil pekerja rumahan. Apa yang dikerjakan pekerja rumahan sendiri dapat dikatakan bukan pekerjaan yang mudah. Sebab pekerjaan yang mereka lakukan tidak bisa dikerjakan menggunakan mesin dan hanya bisa dikerjakan menggunakan keterampilan tangan dan ketelitian.

Karena bekerja di rumah, pekerja rumahan seringkali tidak dianggap sebagai pekerja. Mereka diasingkan dari hak-hak normatif ketenagakerjaan. Seperti hal nya jam kerja yang panjang (karena tidak ada jam kerja yang mengikat), upah yang masih jauh dari UMP, tidak adanya keselamatan dan kesehatan, serta hak jaminan sosial bagi pekerja.

Nyatanya, menurut UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pekerja rumahan masuk dalam indikator pekerja. Mereka memiliki hubungan kerja yang dibatasi dengan adanya unsur pekerjaan, upah dan perintah[1] Namun dalam praktiknya pekerja rumahan dipekerjakan melalui mekanisme informal dan berada diluar cakupan kebijakan negara. Selama ini pengawasan ketenagakerjaan belum diperluas kepada pekerja rumahan. Sehingga jika terjadi perselisihan industrial dengan pemberi kerja atau perusahaan yang mempekerjakan mereka, tidak ada peraturan hukum yang dapat melindungi mereka.

Maka dari itu TURC berharap, dengan adanya kegiatan ini nasib pekerja rumahan tidak hanya menjadi perhatian para aktivis yang bergerak dalam isu perburuhan, akan tetapi semua lapisan masyarakat sampai ke tingkat pemangku kebijakan juga dapat berpartisipasi dalam memperjuangkan perlindungan hukum ketenagakerjaan dan hak #KERJALAYAK bagi pekerja rumahan

Kegiatan yang dilakukan oleh TURC ini, berjalan dengan lancar. Semua barang yang dibawa oleh ibu-ibu diselesaikan oleh publik yang berpartisipasi dalam acara. Selain kampanye pekerja rumahan, kegiatan ini juga diisi diskusi-diskusi kecil terkait kondisi perburuhan di Indonesia. Setidaknya 200 orang silih berganti mengikuti diskusi dengan seksama. Semoga acara ini mampu mengugah simpati masyarakat terhadap nasib pekerja rumahan dan pemahaman masyarakat mengenai perkembangan isu perburuhan saat ini.

(Mohammad Setiawan)

[1] UU No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan : Pasal 1 No. 15 berbunyi Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah.