KERJA LAYAK BAGI PEREMPUAN PEKERJA INFORMAL

Perempuan dalam angkatan kerja dapat eksis berawal dari perjuangan yang panjang paska revolusi industri dalam masyarakat industri Inggris pada awal abad ke-19. Perempuan dengan segala kondisi uniknya masuk dalam kontestasi hubungan kerja yang cukup maskulin pada saat itu – mungkin hingga kini. Kondisi unik ini seringkali terjadi hanya pada perempuan di banyak tingkatan seperti abstraksi di alam pemikiran dan batin yang menimbulkan role of conflict yang muncul saat seorang perempuan kemudian memilih untuk berkarir, sampai di tingkatan lapangan di tempat kerja yang berkelindan dengan kegiatan domestiknya (work family conflict), seperti jam kerja yang lebih panjang, penghargaan yang diskriminatif dibandingkan laki-laki, ditambah lagi sistem yang mengedepankan sumber daya manusia berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja belum sepenuhnya akomodatif bagi perempuan.

Kini, setelah perempuan berhasil masuk dalam angkatan kerja baik di sektor informal dan formal, kondisi-kondisi unik ini masih terjadi beriringan dengan nature of work yang juga terus berubah. Mengikuti perubahan ini, the future of work pun ikut berubah, dimana pekerjaan di sektor informal economy menjadi pusaran arusnya. Melihat trayektori angkatan kerja Indonesia per Februari 2017 sebesar 131,55 juta orang, dengan laki-laki di sektor ekonomi formal sebesar 45,06% dan di sektor ekonomi informal sebesar 54,94%. Sedangkan perempuan yang bekerja di sektor ekonomi formal sebesar 36,52% dan di sektor ekonomi informal adalah sebesar 63,48%.

Melihat keberadaan perempuan di angkatan kerja, tentunya membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam dari sekedar hubungan kerja dan industrialnya. Salah satunya saja untuk urusan beban ganda perempuan yang tidak dikenali secara formal dalam regulasi, sehingga diselesaikan secara personal dan kultural.

Berangkat dari hal ini, Trade Union Rights Centre (TURC) sebagai pusat studi dan advokasi isu perburuhan, yang dalam kesempatan ini didukung oleh MAMPU: Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan, bekerja sama dengan organisasi-organisasi penggiat isu ketenagakerjaan dan perempuan, mengajak anda semua melalui kegiatan Women(home)Worker Festival 2017 yang diselenggarakan pada 22-23 Desember 2017 di Jakarta Creative Hub untuk merefleksikan, mengkritisi, dan menghargai keberadaan perempuan sebagai angkatan kerja di sektor informal, dimana perempuanlah yang mendominasi didalamnya. Kegiatan ini ingin mengajak anda untuk melihat apa dan bagaimana kelayakan atas pemenuhan hak-hak perempuan dalam dimensi hubungan kerja, dan hubungan industrial. Kegiatan ini akan mendalami sejauh mana tantangan perempuan saat bekerja di sektor informal : dari rumah sebagai tempat kerja, sampai laut dan ladang. Cita-cita besarnya, kegiatan ini akan menjadi sebuah perkenalan awal akan tren informalisasi pekerjaan di Indonesia bagi anda dan serikat pekerja/serikat buruh khususnya untuk memperluas kembali horizon kelas pekerja, serta menjadi ruang diskusi bersama untuk mendukung kondisi kerja layak bagi perempuan pekerja sektor informal.

Salam solidaritas,

Trade Union Rights Centre (TURC)

KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD PROGRAM ACARA

#WomenandDecentWork #KerjaLayak #LindungiPekerjaRumahan