DERITA INGIN PULANG, TAK PUNYA UANG (Sebuah Catatan Buruh Migran Perkebunan Kelapa Sawit)

 

1 Februari 2018 – Sejak pertama kali diperkenalkan di Indonesia, kelapa sawit berkembang pesat dalam industry perkebunan di Indonesia. Kelapa sawit dibawa ke Indonesia oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada 1848. Kemudian kelapa sawit tersebut di tanam di Kebun Raya Bogor. Bibit kelapa sawit tersebut sebanyak 4 buah daan dibawa dari Amsterdam, Belanda. Sejak tahun 1911 kelapa sawit mulai dibudidaya dan dikomersilkan di Aceh dan Sumatera Utara oleh Adrien Hallet yang berkebangsaan Belgia.[1]

Saat ini perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus mengalami perkembangan dan perluasan wilayah. Tumbuh pesatnya perkebunan kelapa sawit di  Indonesia didasari dengan besarnya kebutuhan dunia atas produk olahan dari kelapa sawit. Hal ini juga berdampak pada industry perkebunan kelapa sawit yang menjanjikan bagi perekonomian. Djoehana Setyamidjaja, M.Ed. dalam bukunya yang berjudul Kelapa Sawit Teknik Budidaya, Panen, Pengolahan menyebutkan bahwa kelapa sawit memiliki kegunaan yang banyak. Dalam kehidupan sehari-hari, kelapa sawit dapat diolah menjadi produk  hilir berupa minyak ggoreng, minyak salad, shortening, sabun, glyserine, margarine, minyak bakar kendaraan bermotor, dan produk-produk lainnya yang mudah dijjumpai dalam kehidupan masyarakat.[2]

Gambar 1. Tandan buah segar kelapa sawit

 

Pertumbuhan pesat industry perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak selalu berdampak baik. Beberapa permasalahan menjadi sorotan berbagai kalangan dalam tata  kelola industry perkebunan kelapa sawit. Beberapa permasalahan yang terjadi diantaranya adalah pencemaran lingkungan, sengketa agraria, hingga permasalahan tenaga kerja. Pada akhir Pebruari 2017, Trade Union Right Center(TURC) melakukan kunjungan lapangan ke beberapa perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan. Tim riset TURC menemukan beberapa temuan terkait permasalahan ketenagakerjaan di sector  perkebunan kelapa sawit.

Berdasarkan pengamatan yang ada, perkebunan kelapa sawit banyak mempekerjakan masyarakat pendatang sebagai buruh di perusahaan. Hasil inventarisir TURC beberapa komunitas buruh yang hadir di perkebunan kelapa sawit untuk menjadi buruh terbesar berasal dari Indonesia bagian timur: Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan. Beberapa yang lain merupakan masyarakat asli Kalimantan Selatan dan putra/putri peserta trasmigrasi pada masa orde  baru yang berasal dari Jawa.

Banyak alasan yang mendasari kedatangan  masayarakat dari luar Kalimantan untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Tidak tersedianya lapangan pekerjaan di daerah asal dan tingkat kemiskinan yang tinggi di kampung halaman menjadi alasan kuat bagi pendatang untuk merantau ke Kalimantan Selatan dan bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Gambar 2. Buruh migran yang berasal dari Nusa Tenggara Barat melakukan pemanenan buah kelapa sawit.

Salah satu buruh saat wawancara menjelaskan, bahwa di kampung halamannya  di Lombok, Nusa Tenggara Barat dirinya tidak mempunyai pekerjaan Karena tidak mampu bersaing akibat Pendidikan yang rendah. Selain itu tingkat kemiskinan yang tinggi menjadi penyebab lainnya. Ia menyampaikan, jika orang lain dengan tingkat Pendidikan yang rendah namun memiliki aset, salah satu contohnya tanah, dapat bertahan hidup di kampung halaman untuk mengolah tanahnya dengan berladang.

Kelompok buruh yang berasal dari dari Nusa Tenggara Barat datang ke Kalimantan Selatan untuk menjadi buruh atas ajakan dari buruh lainnya yang sudah lebih dulu menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit yang kembali ke kampung bersama perwakilan perusahaan untuk mencari tenaga kerja baru. Secara berkelompok masyarakat yang mayoritas merupakan pemuda di kampungnya dijanjikan berbagai hal baik oleh perusahaan jika mau bekerja di perkebunan kelapa sawit.

Para buruh dijanjikan dengan penghasilan yang besar dan fasilitas yang baik oleh perusahaan perkebunan kelapa sawit. Para buruh dijanjikan akan mendapat upah sebesar Rp. 95.000,-/ hari. Pada kenyataannya saat bekerja di perkebunan di Kalimantan Selatan buruh menempati rumah bangsal/barak dengan fasilitas seadanya.

Proses perpindahan buruh dari kampung halaman ke lokasi perkebunan kelapa sawit juga menuai banyak masalah. Dari kampung halaman buruh dijanjikan akan diberangkatkan dengan pesawat terbang ke Kalimantan Selatan. Namun buruh menempuh perjalanan darat dari kampung menuju pelabuhan ibukota propinsi untuk diberangkatkan ke Kalimantan Selatan menggunakan kapal laut. Tanpa bekal yang cukup, selama menempuh perjalanan buruh harus memenuhi kebutuhannya untuk makan dan hal lainnya tanpa ditanggung oleh perusahaan.

Hal di atas semakin memprihatinkan dengan keinginan pulang ke kampung halaman para buruh akibat merasa dibohongi oleh perusahaan tidak dapat dilakukan Karena tidak adanya biaya. Bekal uang yang dibawa buruh telah habis selama perjalanan dan upah yang didapat para buruh bekerja di perusahaan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak pertengahan 2016 TURC melakukan pendampingan pada beberapa perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan.  Dalam kerja-kerja tersebut, TURC mengambil posisi untuk melakukan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas Serikat Buruh perkebunan kelapa sawit.

Dalam pengamatan terhadap serikat buruh perkebunan kelapa sawit dampingan, TURC menganggap perlu melakukan pendampingan demi meningkatnya kapasitas serikat buruh. Hal ini juga terkait dengan banyaknya masalah yang dihadapi buruh di perkebunan kelapa sawit. Dalam prosesnya, TURC mendorong agar teebentuknya solidaritas antar buruh baik yang berasal dari penduduk asli Kalimantan Selatan maupun buruh migran yang berasal dari luar Kalimantan Selatan. Dorongan tersebut dimaksudkan agar buruh perkebunan kelapa sawit termasuk buruh migran juga dapat terlindungi, teradvokasi, dan memiliki hubungan yang baik dan terjalin erat dengan masyarakat lokal sekitar.

Penulis : Andy Akbar

[1] http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/23266/Chapter%20II.pdf;jsessionid=ED9A19467CEC0436E17FF891BAA632CE?sequence=3

[2] Kelapa Sawit. Teknik Budidaya, Panen, Pengolahan. Djoehana Setyamidjaja, M.Ed. Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2006.