WOMEN HOME WORKERS FESTIVAL : Kerja Layak Bagi Pekerja Informal

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angkatan kerja bagi pekerja rumahan atau pekerja informal per-Februari 2017 adalah 131,55 juta orang. Dari angka tersebut tercatat laki-laki yang berada di sektor ekonomi informal sebesar 54,94%, sedangkan perempuan yang bekerja di sektor ekonomi formal sebesar 36,52% dan di sektor ekonomi informal sebesar 63,48%. Data dari BPS di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja sektor informal didominasi oleh perempuan.

Namun perhatian akan keterlibatan perempuan dalam sektor informal tidak sebanding dengan sumbangsihnya. Permasalahan terkait hubungan kerja, perjanjian kerja, upah, maupun diskriminasi pada perempuan pekerja informal masih belum sepenuhnya menjadi perhatian kita semua.

Berangkat dari hal diatas, TURC mengadakan Women(home)Workers Festival bertemakan ‘Kerja Layak Bagi Perempuan Pekerja Informal’. Kegiatan yang dilaksanakan pada 22 – 23 Desember 2017 di Jakarta Creative Hub ini, terdiri dari berbagai rangkaian acara yakni Diskusi Panel, Lokakarya, Pertunjukan Kesenian, Pemutaran Film, Open Booth dan Pameran Foto. Kegiatan ini turut melibatkan publik, akademisi, instansi pemerintah terkait, media, serikat pekerja/ serikat buruh, dan organisasi-organisasi masyarakat sipil yang bergerak pada isu ketenagakerjaan.

“Pertumbuhan penciptaan lapangan kerja yang lambat di sektor formal, membuat eksistensi pekerja di sektor informal ini tetap ada. Semakin kesini, ada upaya kesengajaan yang diciptakan oleh industri dalam menciptakan lapangan kerja di sektor informal. Mereka melihat ada peluang yang bisa ditangkap, sebenarnya untuk mengefisiensikan proses produksi mereka”, ungkap Andriko Otang selaku Direktur Eksekutif TURC dalam sesi diskusi panel ‘Tren Informalisasi Pekerjaan dan Home-based Worker’.

Gambar 1. Diskusi ‘Tren Informalisasi Pekerjaan dan Home-based Workers’

Hal ini memperlihatkan bagaimana ruang-ruang informal menjadi ladang empuk bagi perusahaan untuk mengalihkan sebagian proses produksi mereka ke rumah-rumah pekerja itu sendiri. Dalam hal ini, fenomena pekerja rumahan menjadi salah satu bagian dari dampak informalisasi pekerjaan yang erat sekali dengan pekerja perempuan.

Gambar 2. Diskusi Peluncuran Penelitian TURC 

Data-data yang diutarakan oleh TURC dalam peluncuran penelitian ‘Geliat Pekerja Rumahan Dalam Pusaran Industri Padat Karya’ semakin memperkuat bagaimana rentannya kondisi perempuan pekerja rumahan dalam rantai pasok industri.

“Tantangan utama dari fenomena pekerja rumahan ini adalah bahwa mereka tidak menyadari dirinya adalah seorang pekerja. Nyatanya mereka terikat standar kualitas pekerjaan, target waktu dan kapasitas produksi. Mereka yang tidak memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut terancam untuk tidak dibayar upahnya dan bahkan membayar ganti rugi atas material produksi”, ujar Yasinta Sonia, selaku Koord. Divisi Informal TURC.

Kegiatan ini juga turut mengupas bagaimana persepsi media memandang buruh perempuan, khususnya dalam sektor informal ekonomi, yang di bahas dalam sesi Sharing Knowledge ‘Buruh Perempuan Dalam Lensa Media’ bersama Maria Hartiningsih, seorang wartawan senior harian KOMPAS dan berbagai diskusi menarik lainnya seperti ‘Potensi Kekerasan Perempuan di Tempat Kerja’, yang disampaikan oleh Yuniyanti Chuzaifah selaku Wakil Ketua Komnas Perempuan.

Kurang lengkap rasanya jika kegiatan ini tidak melibatkan para pelaku pekerja informal itu sendiri. Pada sesi ‘Berbagi Cerita Lika-liku Perempuan Pekerja Informal’ menghadirkan beberapa narasumber dari perempuan-perempuan pelaku kerja informal yang mewakili berbagai sektor pekerjaan yakni : Perempuan Nelayan, Buruh Migran, Pekerja Rumah Tangga, dan Pekerja Rumahan. Dalam sesi ini mereka bercerita bagaimana kondisi kerja, sampai kehidupan sehari-hari mereka.

Gambar 3. Diskusi Panel ‘Berbagi Cerita : Lika-Liku Perempuan Pekerja Informal’

Gambar 4. Para perempuan pekerja informal mendapatkan penghargaan sertifikat sebagai narasumber diskusi

Tak kalah menarik, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai lokakarya yang melibatkan partisipasi publik. Salah satunya adalah lokakarya ‘Mengenal Lebih Dekat Pekerja Rumahan’. Mengusung tema ‘Dibuka Lowongan Kerja, Daftar Sekarang Langsung Dapat Gaji’, masyarakat diajak secara langsung untuk merasakan menjadi pekerja rumahan dengan melakukan pekerjaan yang dikerjakan pekerja rumahan Setiap orang yang berhasil menyelesaikan pekerjaannya, mendapatkan upah sesuai dengan yang pekerja rumahan dapatkan. Kegiatan ini sebagai bentuk kampanye untuk memperkenalkan kondisi kerja pekerja rumahan. Menariknya, hampir siapapun yang mencoba bekerja menjadi pekerja rumahan, sangat terkejut dengan nilai upah yang mereka dapat yakni 100-200 perak / barang yang dikerjakan, dalam hal ini pekerjaan mengelem paperbag. Dimana upah dengan nilai tersebut tidak sebanding dengan beban kerja, tuntutan kualitas dan target produksi.

Gambar 5. Lokakarya ‘Mengenal Lebih Dekat Pekerja Rumahan’

Gambar 6. Peserta sedang mempraktekkan simulasi produksi pekerja rumahan

Lokakarya lainnya seperti ‘Bercerita Melalui Kolase’ yang dipandu oleh Ika Vantiani dan lokakarya ‘Stress Manajemen Bagi Pekerja Perempuan’ bersama Mike Verawati, yang diikuti oleh publik maupun para perempuan pekerja informal itu sendiri juga turut menjadi bagian penting dalam acara ini.

Rangkaian kegiatan ini ditutup oleh pemutaran film yang dipersembahkan oleh ILO, bertajuk Hak Kami Sama, sebuah kumpulan film pendek yang bercerita tentang pengakuan dan pemenuhan hak pekerja rumah tangga dan sebuah film dokumenter dari Kalyana Shira Films yang bertajuk ‘Working Girls’, yang bercerita tentang perjuangan perempuan pekerja yang berusaha bangkit dan berjuang agar bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.

                                           Gambar 7. Instalasi pembuka acara Women Home Workers Festival

Gambar 8. Salah satu pekerja rumahan sedang berpose di depan foto-foto kondisi kerja pekerja rumahan yang dicetak pada medium bantal

Pesan dalam kegiatan ini tidak hanya di kemas dalam bentuk mata acara, instalasi tempat dalam kegiatan ini juga turut merepresentasikan kondisi kerja para pekerja informal, khususnya pekerja rumahan. “Bantal-bantal dan selimut menjadi media instalasi sebagai representasi bahwa ‘waktu beristirahat’ merupakan hal yang sangat mahal bagi para buruh rumahan. Jam kerja yang panjang membuat mereka kurang memiliki waktu istirahat.”, ujar Bhaskara Haqa, selaku Art Director kegiatan ini. Seluruh instalasi ini merupakan hasil kolaborasi TURC dan mahasiswa lintas jurusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Women Home Workers Festival 2017 ini adalah wujud kampanye kreatif untuk menyuarakan isu-isu tentang perempuan-perempuan pekerja sektor informal untuk mengenal  lebih dekat mengenai isu ketenagakerjaan serta, menjadi wujud nyata dalam mendorong perlindungan hukum bagi pekerjaan berbasis rumahan yang banyak didominasi oleh pekerja perempuan.

Penulis : EVN