Trade Union Rights Centre

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Rektor UI Didemo Dosen

E-mail Print PDF

 

Rektor UI Didemo Dosen, Karyawan dan Mahasiswa

 

Pemberian gelar kehormatan Honoris Causa oleh Rektor Unversitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa,  kepada Raja Arab Saudi menuai banyak kecaman. Protes pun mengalir dari internal UI. Dosen dan Karyawan UI yang tergabung dalam Paguyuban Serikat Pekerja UI, melakukan aksi unjuk rasa menolak pemberian gelar kehormatan tersebut. Aksi yang berlangsung pada tanggal 13 September 2011 ini, dimulai dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UI kemudian menuju Bundaran Fakultas Psikologi. Aksi ini diikuti sekitar seratus orang yang merupakan gabungan dosen, pegawai, dan mahasiswa UI dengan menggelar aksi jalan kaki di Kampus UI, Depok, Jawa Barat. Selain itu, aksi unjuk rasa ini juga diramaikan Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI, Ade Armando, Andreas Sanjaya, dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UI, Maman Abdurahman..

Dalam aksi tersebut, juga terlibat beberapa elemen buruh lainnya, seperti dari Gerakan Serikat Buruh Indonesia (Gesburi). Menurut salah seorang demonstran dari Gesburi, keikutsertaan mereka dalam aksi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap permasalahan tenaga kerja Indonesia dan pekerja di UI. Mereka menganggap pemberian gelar tersebut tidak layak, bahkan sangat melukai perasaan buruh migran. Pernyataan sikap ini juga disetujui dengan Migrant Care.

Migrant Care ikut serta menyuarakan aspirasi mereka. Menurut Wahyu, Koordinator Aksi Migrant Care, aksi ini adalah bentuk protes mereka terhadap institusi pendidikan ternama yang telah melukai perasaan buruh migran Indonesia. “Pemberian gelar ini, sangat melukai perasaan kami,” ujar Wahyu di tengah aksi berlangsung. Pemberian gelar Doktor Honoris Causa Bidang Kemanusiaan dan Ilmu Pengetahuan Teknologi kepada Raja Arab Saudi, Abdullah bin Abdul Aziz adalah simbol atas berpihaknya Universitas Indonesia terhadap penyiksaan, pelecehan seksual, dan pengkerdilan harkat martabat Indonesia yang dalam hal ini adalah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di Arab Saudi. Bagaimana tidak, hasil kajian umum menunjukkan bahwa negara Teluk, terutama Arab Saudi, adalah negara yang paling buruk menangani isu kemanusiaan buruh migran. Hal ini dinyatakan oleh Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia dalam tulisannya yang berjudul Menara Gading. Oleh karena itu, LSM Migrant Care mendirikan monumen yang bertuliskan “Monumen Ini Dipancangkan Untuk Menegaskan Pemihakkan UI kepada TKI di Luar Negeri yang Disiksa Diperkosa Bahkan Dibunuh dengan Keji Sekaligus Bentuk Perlawanan Kami Terhadap Para Penista Kemanusiaan Dimanapun”.  Para pengunjuk rasa yang mendirikan monumen tersebut juga menggunakan topeng bergambar Gumilar.

Selain Migrant Care dan Gesburi, Serikat Pekerja UI juga berorasi. Dalam orasinya, Koordinator Paguyuban Serikat Pekerja Indonesia, Widijanto, menjelaskan bahwa pemberian gelar kehormatan oleh Rektor UI kepada Raja Arab Saudi telah membuat malu nama baik sivitas akademika UI dihadapan buruh migran. Seperti diketahui, sebelum adanya pemberian gelar kehormatan tersebut, seorang buruh Migran Indonesia, Ruyati, dihukum pancung oleh Pengadilan Arab Saudi dengan tuduhan telah membunuh majikannya. Adanya peristiwa ini, mengesankan Gumilar buta nurani.

Aksi berakhir pukul 11.30 dengan pemberian karangan bunga dari Paguyuban Serikat Pekerja UI kepada Migrant Care sebagai permintaan maaf atas sikap Rektor UI yang melukai perasaan buruh migran Indonesia. Selain itu, beberapa pihak menyesalkan tindakan Rektor UI yang memberikan gelar honoris causa kepada Raja Arab Saudi. Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Riris K Sarumpaet menyesalkan rektor sudah semena-mena memberi gelar tanpa melibatkan Guru Besar di UI.

Sementara itu, sepanjang aksi berlangsung tidak ada tanggapan dari pihak Rektorat UI maupun dari Rektor UI sendiri. Ketiadaan sikap ini menunjukan adanya ketidakpedulian terhadap suara-suaru pekerja UI. Rencananya, Paguyuban Serikat Pekerja UI akan terus melakukan aksi dan audiensi demi memperbaiki citra dan tata kelola UI.

 

Terpisah- Gumilar Rusliwa menampik semua tudingan di atas. Gumilar menegaskan pemberian gelar HC kepada Raja Arab Saudi sudah final dan tidak akan direvisi. "Pemberian HC itu kan ranah akademik. Sistem dan prosedurnya tentu sudah dipenuhi, guru besar terlibat, reason juga sudah dikemukakan, jadi saya kira sudah selesai dan final," ujar Gumilar di Gedung Rektorat UI, Depok, Senin, 5 September 2011.


Comments
Search
Only registered users can write comments!

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated on Wednesday, 07 December 2011 14:28